|
Resensi Buku Judul Buku |
: Muhammadku, Sayangku |
|
Penulis |
: EDI AH IYUBENU |
|
Tebal |
: 236 |
|
Penerbit |
: Diva Press |
|
Cetakan |
: Pertama, November 2019 |
|
ISBN |
: 978-602-391-828-7 |
|
Harga Buku |
: Rp. 20.000,00 |
|
Presensi |
: Fahma Maulida |
Agama adalah cinta dan cinta adalah agama,
ungkapan ini dikutip langsung oleh Edi dari sang maha guru Imam Ja’far
ash-Shadiq. Ungkapan tersebut sesuai dengan buku yang di suguhkan oleh penulis
yakni tentang kasih sayang baginda Nabi Rasulullah Saw dan kasih sayang Allah
serta hamba Allah kepada-Nya. Buku ini mengulas banyak hal berkaitan dengan
sang pemilik cahaya yakni Nabi Muhammad Saw, akan dikisahkan betapa sayangnya
Allah Swt kepada Rasul sehingga terciptalah alam semesta ini, dikisahkan
akhlak-akhlak Rasul yang menjadi suri tauladan bagi para umatnya, dikisahkan
segala perbuatan dan sikap Rasul kepada masyarakat dan keluarganya yang mana
dari kisah-kisah tersebut dapat menggugah rasa kerinduan kita kepadanya,
menambah rasa sayang dan cinta kita kepadanya, serta menambah semangat kita
untuk selalu berbenah diri dan belajar akhlak dari Rasulullah Saw. Dialah sang
pemilik cahaya sebenarnya karena kehadirannya selalu dirindukan dan kasih
sayangnya selalu dapat dirasakan dan terbenam dalam hati para umatnya.
Cahaya di Atas
Cahaya
Nurun Fauqa
Nuri, cahaya di
atas cahaya, inilah ungkapan yang tepat untuk baginda Nabi Rasulullah Saw.
Dalam buku terbarunya, Edi memilih ungkapan tersebut untuk Rasulullah Saw
karena dialah yang menjadi sebab agung atas segala ciptaan Tuhan. Ada sebuah
hadis qudsi yang dikutip oleh Edi, bahwa Allah Swt berfirman: “Alam semesta
ini bukanlah tujuanku, tetapi engkaulah, Wahai Muhammad, tujuanku menciptakan
alam raya ini.” Dalam riwayat lain, dikatakan: “Jika bukan karena
engkau, Muhammad, maka takkan ada penciptaan alam raya ini.” (Halaman 31)
Disini Edi
mengajak para pembacanya untuk merenung tentang betapa besar sebenarnya
keadiluhungan Muhammad Saw sampai Allah Swt memberikan ungkapan yang sedemikian
rupa, betapa sayangnya Allah Swt terhadap hambanya tersebut. Kemudian kita
diajak untuk berpikir, bagaimana dengan diri kita yang jauh akhlaknya dari
Rasulullah Saw? oleh karena itu dalam bukunya ini Edi mengajak para pembaca
untuk belajar akhlak dari Rasulullah Saw sang pemilik cahaya. Dipaparkanlah
betapa Rasul itu memiliki sikap yang welas asih terhadap umatnya baik itu
muslim ataupun non muslim sebagaimana yang dicontohkan oleh Edi, “Beliau Saw
terus menyuapkan makanan ke mulut pengemis Yahudi buta yang mencaci-makinya”, betapa
rasul itu memiliki sikap yang sangat bijaksana dalam membuat sebuah keputusan,
seperti halnya saat ada dua sahabtnya yang berbeda pendapat terkait masalah
tayamum, Rasul membenarkan pendapat keduanya, dan masih banyak lagi
akhlak-akhlak keadiluhungan Rasulullah Saw yang patut untuk dicontoh.
Umatku
Saudaraku
Rasulullah Saw
berkata, “Tidak, Abu Bakar. Kalian semua adalah sahabat-sahabatku, bukan
saudara-saudaraku. Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku,
tetapi mereka beriman padaku dan mereka mencintai aku melebihi anak dan orang
tuanya. Mereka itulah saudara-saudaraku dan mereka akan bersama denganku.
Beruntunglah mereka yang bersama dan beriman padaku, dan beruntung pulalah
mereka yang beriman kepadaku meski mereka tak pernah melihatku.” (Halaman
71-72)
Edi mengutip
sabda Rasul di atas untuk menunjukkan dan mengajak pembaca merenungkan betapa
kasih sayang Rasul sangat besar terhadap umatnya sehingga ia berkata demikian,
bahwa umatku adalah saudaraku. Dan tentunya setelah melihat ungkapan tersebut
pembaca akan berpikir sudah pantaskah kami menjadi bagian dari
saudara-saudaramu ya Rasulallah Saw? Apa yang seharusnya kami perbuat sehingga
bisa kau akui menjadi saudaramu? Dan bagaimana caranya? Dengan bahasanya yang
renyah untuk dinikmati, Edi memaparkan contoh akhlak Rasulullah Saw kepada keluarga
dan bagaimana cara menjamu tamu dengan baik, serta disisipkan pula pesan Rasul
yang senantiasa untuk selalu menyayangi keluarga “Sayangilah keluargamu. Aku
adalah orang yang paling sayang kepada keluarga-keluargaku.” (Halaman 78)
Nabi Mempermudah
Karena Islam Itu Indah
Rasulullah saw
mengatakan kepada sahabat-sahabatnya, “Yassir wala tu’assir wa basysyiru
wala tunaffiru, mudahkanlah dan jangan dipersulit dan berikanlah kabar yang
menggembirakan dan jangan memberikan kabar yang memberatkan.” (Halaman 93) Rasulullah
Saw juga bersabda: “Aku salat malam tetapi juga tidur; aku berpuasa tetapi
juga tidak berpuasa; dan aku pun menikah.” (Halaman 91)
Islam agama
yang indah, mengapa? Karena tidak ada dalam ajarannya yang memberatkan para
pemeluknya, bahkan Rasulullah Saw sebagai sang pembawa risalah selalu
memberikan keputusan yang selalu bisa diterima oleh para sahabatnya ketika
mereka berbeda pendapat. Dalam buku ini Edi menghadirkan sebuah wacana yang
memang bukan sesuatu hal yang baru terkait tanggapan-tanggapan Rasulullah Saw
ketika menghadapi sebuah problem dalam masyarakatnya, namun ia mengemas menjadi
sebuah wacana baru dengan intrik khasnya sehingga membawa pembaca seakan dibawa
dalam sebuah forum dialog dengan bahasanya yang renyah untuk semua kalangan.
Tulisan yang indah. Semoga kita diakui sebagai ummat Beliau.
BalasHapusAmiin Ya Rabbal Alamin.
Hapus