Jumat, 04 September 2020

Muhammad Sang Pemilik Cahaya

Resensi Buku


Judul Buku





: Muhammadku, Sayangku

Penulis

: EDI AH IYUBENU

Tebal

: 236

Penerbit

: Diva Press

Cetakan

: Pertama, November 2019

ISBN

: 978-602-391-828-7

Harga Buku

: Rp. 20.000,00

Presensi

: Fahma Maulida



Agama adalah cinta dan cinta adalah agama, ungkapan ini dikutip langsung oleh Edi dari sang maha guru Imam Ja’far ash-Shadiq. Ungkapan tersebut sesuai dengan buku yang di suguhkan oleh penulis yakni tentang kasih sayang baginda Nabi Rasulullah Saw dan kasih sayang Allah serta hamba Allah kepada-Nya. Buku ini mengulas banyak hal berkaitan dengan sang pemilik cahaya yakni Nabi Muhammad Saw, akan dikisahkan betapa sayangnya Allah Swt kepada Rasul sehingga terciptalah alam semesta ini, dikisahkan akhlak-akhlak Rasul yang menjadi suri tauladan bagi para umatnya, dikisahkan segala perbuatan dan sikap Rasul kepada masyarakat dan keluarganya yang mana dari kisah-kisah tersebut dapat menggugah rasa kerinduan kita kepadanya, menambah rasa sayang dan cinta kita kepadanya, serta menambah semangat kita untuk selalu berbenah diri dan belajar akhlak dari Rasulullah Saw. Dialah sang pemilik cahaya sebenarnya karena kehadirannya selalu dirindukan dan kasih sayangnya selalu dapat dirasakan dan terbenam dalam hati para umatnya.

 

Cahaya di Atas Cahaya

Nurun Fauqa Nuri, cahaya di atas cahaya, inilah ungkapan yang tepat untuk baginda Nabi Rasulullah Saw. Dalam buku terbarunya, Edi memilih ungkapan tersebut untuk Rasulullah Saw karena dialah yang menjadi sebab agung atas segala ciptaan Tuhan. Ada sebuah hadis qudsi yang dikutip oleh Edi, bahwa Allah Swt berfirman: “Alam semesta ini bukanlah tujuanku, tetapi engkaulah, Wahai Muhammad, tujuanku menciptakan alam raya ini.” Dalam riwayat lain, dikatakan: “Jika bukan karena engkau, Muhammad, maka takkan ada penciptaan alam raya ini.” (Halaman 31)

Disini Edi mengajak para pembacanya untuk merenung tentang betapa besar sebenarnya keadiluhungan Muhammad Saw sampai Allah Swt memberikan ungkapan yang sedemikian rupa, betapa sayangnya Allah Swt terhadap hambanya tersebut. Kemudian kita diajak untuk berpikir, bagaimana dengan diri kita yang jauh akhlaknya dari Rasulullah Saw? oleh karena itu dalam bukunya ini Edi mengajak para pembaca untuk belajar akhlak dari Rasulullah Saw sang pemilik cahaya. Dipaparkanlah betapa Rasul itu memiliki sikap yang welas asih terhadap umatnya baik itu muslim ataupun non muslim sebagaimana yang dicontohkan oleh Edi, “Beliau Saw terus menyuapkan makanan ke mulut pengemis Yahudi buta yang mencaci-makinya”, betapa rasul itu memiliki sikap yang sangat bijaksana dalam membuat sebuah keputusan, seperti halnya saat ada dua sahabtnya yang berbeda pendapat terkait masalah tayamum, Rasul membenarkan pendapat keduanya, dan masih banyak lagi akhlak-akhlak keadiluhungan Rasulullah Saw yang patut untuk dicontoh.

Umatku Saudaraku

Rasulullah Saw berkata, “Tidak, Abu Bakar. Kalian semua adalah sahabat-sahabatku, bukan saudara-saudaraku. Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku, tetapi mereka beriman padaku dan mereka mencintai aku melebihi anak dan orang tuanya. Mereka itulah saudara-saudaraku dan mereka akan bersama denganku. Beruntunglah mereka yang bersama dan beriman padaku, dan beruntung pulalah mereka yang beriman kepadaku meski mereka tak pernah melihatku.” (Halaman 71-72)

Edi mengutip sabda Rasul di atas untuk menunjukkan dan mengajak pembaca merenungkan betapa kasih sayang Rasul sangat besar terhadap umatnya sehingga ia berkata demikian, bahwa umatku adalah saudaraku. Dan tentunya setelah melihat ungkapan tersebut pembaca akan berpikir sudah pantaskah kami menjadi bagian dari saudara-saudaramu ya Rasulallah Saw? Apa yang seharusnya kami perbuat sehingga bisa kau akui menjadi saudaramu? Dan bagaimana caranya? Dengan bahasanya yang renyah untuk dinikmati, Edi memaparkan contoh akhlak Rasulullah Saw kepada keluarga dan bagaimana cara menjamu tamu dengan baik, serta disisipkan pula pesan Rasul yang senantiasa untuk selalu menyayangi keluarga “Sayangilah keluargamu. Aku adalah orang yang paling sayang kepada keluarga-keluargaku.” (Halaman 78)

Nabi Mempermudah Karena Islam Itu Indah

Rasulullah saw mengatakan kepada sahabat-sahabatnya, “Yassir wala tu’assir wa basysyiru wala tunaffiru, mudahkanlah dan jangan dipersulit dan berikanlah kabar yang menggembirakan dan jangan memberikan kabar yang memberatkan.” (Halaman 93) Rasulullah Saw juga bersabda: “Aku salat malam tetapi juga tidur; aku berpuasa tetapi juga tidak berpuasa; dan aku pun menikah.” (Halaman 91)

Islam agama yang indah, mengapa? Karena tidak ada dalam ajarannya yang memberatkan para pemeluknya, bahkan Rasulullah Saw sebagai sang pembawa risalah selalu memberikan keputusan yang selalu bisa diterima oleh para sahabatnya ketika mereka berbeda pendapat. Dalam buku ini Edi menghadirkan sebuah wacana yang memang bukan sesuatu hal yang baru terkait tanggapan-tanggapan Rasulullah Saw ketika menghadapi sebuah problem dalam masyarakatnya, namun ia mengemas menjadi sebuah wacana baru dengan intrik khasnya sehingga membawa pembaca seakan dibawa dalam sebuah forum dialog dengan bahasanya yang renyah untuk semua kalangan.           

 

2 komentar:

STIGMA

Kedua insan dipertemukan Tanpa ada janji yang beralasan Saling menyapa dan mengenal Perhatian pun dicurahkan Hingga hati jatuh dalam...