Sabtu, 05 September 2020

STIGMA

Kedua insan dipertemukan

Tanpa ada janji yang beralasan

Saling menyapa dan mengenal

Perhatian pun dicurahkan

Hingga hati jatuh dalam peraduan

 

Pemuda tampan dengan masa lalu kelam

Namun, tak berakhir suram

Sebuah tugas membawa pada pertemuan

Dengan si cantik yang didambakan

 

Benih cinta tumbuh antara dua insan

Restu orang tua mereka dapatkan

Ijab-Qabul pun dilaksanakan

Dan merekapun dihalalkan

 

Mahligai mereka arungi dengan penuh kebahagiaaan

Hadirnya malaikat kecil memenuhi ruang dengan penuh candaan

Tak ada fikiran gelombang pasang akan datang menerpa

Membawa pergi orang-orang tercinta

 

Satu hati telah pergi

Dan tak akan pernah kembali

Akibat kelamnya masa lalu

Kepergiannya meninggalkan jejak dalam tubuhku

 

Banyak STIGMA menyapaku

Tak seorangpun menerimaku

Tak seorangpun berani mendekat padaku

Karena mereka, takut tertular virusku

 

Orang tua tak menganggapku

Membuat hatiku sangat pilu

Sebersit rasa kecewa dibenakku

Namun, itu menjadi motivasi dan semangatku


Aku terbangun dari keterpurukan

Karena Tuhan telah membangunkan

Sahabatku menjadi perantara dengan keuletan dan kegigihan

Sahabat membangkitkan sampai kesuksesan aku dapatkan

Demi meraih apa yang aku citakan serta rindukan

 

Jumat, 04 September 2020

Muhammad Sang Pemilik Cahaya

Resensi Buku


Judul Buku





: Muhammadku, Sayangku

Penulis

: EDI AH IYUBENU

Tebal

: 236

Penerbit

: Diva Press

Cetakan

: Pertama, November 2019

ISBN

: 978-602-391-828-7

Harga Buku

: Rp. 20.000,00

Presensi

: Fahma Maulida



Agama adalah cinta dan cinta adalah agama, ungkapan ini dikutip langsung oleh Edi dari sang maha guru Imam Ja’far ash-Shadiq. Ungkapan tersebut sesuai dengan buku yang di suguhkan oleh penulis yakni tentang kasih sayang baginda Nabi Rasulullah Saw dan kasih sayang Allah serta hamba Allah kepada-Nya. Buku ini mengulas banyak hal berkaitan dengan sang pemilik cahaya yakni Nabi Muhammad Saw, akan dikisahkan betapa sayangnya Allah Swt kepada Rasul sehingga terciptalah alam semesta ini, dikisahkan akhlak-akhlak Rasul yang menjadi suri tauladan bagi para umatnya, dikisahkan segala perbuatan dan sikap Rasul kepada masyarakat dan keluarganya yang mana dari kisah-kisah tersebut dapat menggugah rasa kerinduan kita kepadanya, menambah rasa sayang dan cinta kita kepadanya, serta menambah semangat kita untuk selalu berbenah diri dan belajar akhlak dari Rasulullah Saw. Dialah sang pemilik cahaya sebenarnya karena kehadirannya selalu dirindukan dan kasih sayangnya selalu dapat dirasakan dan terbenam dalam hati para umatnya.

 

Cahaya di Atas Cahaya

Nurun Fauqa Nuri, cahaya di atas cahaya, inilah ungkapan yang tepat untuk baginda Nabi Rasulullah Saw. Dalam buku terbarunya, Edi memilih ungkapan tersebut untuk Rasulullah Saw karena dialah yang menjadi sebab agung atas segala ciptaan Tuhan. Ada sebuah hadis qudsi yang dikutip oleh Edi, bahwa Allah Swt berfirman: “Alam semesta ini bukanlah tujuanku, tetapi engkaulah, Wahai Muhammad, tujuanku menciptakan alam raya ini.” Dalam riwayat lain, dikatakan: “Jika bukan karena engkau, Muhammad, maka takkan ada penciptaan alam raya ini.” (Halaman 31)

Disini Edi mengajak para pembacanya untuk merenung tentang betapa besar sebenarnya keadiluhungan Muhammad Saw sampai Allah Swt memberikan ungkapan yang sedemikian rupa, betapa sayangnya Allah Swt terhadap hambanya tersebut. Kemudian kita diajak untuk berpikir, bagaimana dengan diri kita yang jauh akhlaknya dari Rasulullah Saw? oleh karena itu dalam bukunya ini Edi mengajak para pembaca untuk belajar akhlak dari Rasulullah Saw sang pemilik cahaya. Dipaparkanlah betapa Rasul itu memiliki sikap yang welas asih terhadap umatnya baik itu muslim ataupun non muslim sebagaimana yang dicontohkan oleh Edi, “Beliau Saw terus menyuapkan makanan ke mulut pengemis Yahudi buta yang mencaci-makinya”, betapa rasul itu memiliki sikap yang sangat bijaksana dalam membuat sebuah keputusan, seperti halnya saat ada dua sahabtnya yang berbeda pendapat terkait masalah tayamum, Rasul membenarkan pendapat keduanya, dan masih banyak lagi akhlak-akhlak keadiluhungan Rasulullah Saw yang patut untuk dicontoh.

Umatku Saudaraku

Rasulullah Saw berkata, “Tidak, Abu Bakar. Kalian semua adalah sahabat-sahabatku, bukan saudara-saudaraku. Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku, tetapi mereka beriman padaku dan mereka mencintai aku melebihi anak dan orang tuanya. Mereka itulah saudara-saudaraku dan mereka akan bersama denganku. Beruntunglah mereka yang bersama dan beriman padaku, dan beruntung pulalah mereka yang beriman kepadaku meski mereka tak pernah melihatku.” (Halaman 71-72)

Edi mengutip sabda Rasul di atas untuk menunjukkan dan mengajak pembaca merenungkan betapa kasih sayang Rasul sangat besar terhadap umatnya sehingga ia berkata demikian, bahwa umatku adalah saudaraku. Dan tentunya setelah melihat ungkapan tersebut pembaca akan berpikir sudah pantaskah kami menjadi bagian dari saudara-saudaramu ya Rasulallah Saw? Apa yang seharusnya kami perbuat sehingga bisa kau akui menjadi saudaramu? Dan bagaimana caranya? Dengan bahasanya yang renyah untuk dinikmati, Edi memaparkan contoh akhlak Rasulullah Saw kepada keluarga dan bagaimana cara menjamu tamu dengan baik, serta disisipkan pula pesan Rasul yang senantiasa untuk selalu menyayangi keluarga “Sayangilah keluargamu. Aku adalah orang yang paling sayang kepada keluarga-keluargaku.” (Halaman 78)

Nabi Mempermudah Karena Islam Itu Indah

Rasulullah saw mengatakan kepada sahabat-sahabatnya, “Yassir wala tu’assir wa basysyiru wala tunaffiru, mudahkanlah dan jangan dipersulit dan berikanlah kabar yang menggembirakan dan jangan memberikan kabar yang memberatkan.” (Halaman 93) Rasulullah Saw juga bersabda: “Aku salat malam tetapi juga tidur; aku berpuasa tetapi juga tidak berpuasa; dan aku pun menikah.” (Halaman 91)

Islam agama yang indah, mengapa? Karena tidak ada dalam ajarannya yang memberatkan para pemeluknya, bahkan Rasulullah Saw sebagai sang pembawa risalah selalu memberikan keputusan yang selalu bisa diterima oleh para sahabatnya ketika mereka berbeda pendapat. Dalam buku ini Edi menghadirkan sebuah wacana yang memang bukan sesuatu hal yang baru terkait tanggapan-tanggapan Rasulullah Saw ketika menghadapi sebuah problem dalam masyarakatnya, namun ia mengemas menjadi sebuah wacana baru dengan intrik khasnya sehingga membawa pembaca seakan dibawa dalam sebuah forum dialog dengan bahasanya yang renyah untuk semua kalangan.           

 

MENJEMPUT MALAM

Seorang anak yang rindu kehadiran Tuhannya

Tidak seperti usia anak pada umumnya

yang masih suka bermain kesana-kemari

Demi mencapai kesenangan diri


Banyak untaian caci-maki yang ia hadapi

Hingga ia dapat mengerti arti kedewasaan diri

Pendewasaan yang cukup dini

Ia syukuri dengan penuh memuji


Di tengah malam yang sunyi

Ia datang dalam sebuah mimpi

Mimpi yang terus menghantui

Saat itu pula ia mendengar suara yang berderai


Ia terbangun dan beranjak dari peraduan

Menjemput malam yang selama ini ia rindukan

Akhirnya malampun mempertemukan

Lailatul Qadar datang dan singgah menyaksikan


Dengan penuh harap, do'a ia lantunkan

Begitu tenang dalam hangat dekapan

Jalan lurus ia temukan, tanpa ada sedikit belokan

Hingga dipertemukan dengan Tuhan yang ia rindukan


Sedikit cerita saja tentang tulisan ini, sebenarnya tulisan ini sudah pernah aku upload di akun media sosial ku yang lain yakni Instagram dan ada beberapa redaksi yang berbeda dengan yang kutulis sekarang. Aku menulisnya tanggal 12 November 2018 kiranya berselang beberapa hari setelah pulang PPL dari PSQ (Pusat Studi Quran), tepatnya aku dan teman-teman mukim di Pondok Pesantren Bayt al-Quran dibawah asuhan Habib Ali. 1 Minggu sebelum kembali ke Tulungagung aku dapat sebuah buku dari salah satu Ustadz disana, bukunya berisi tentang sekumpulan cerpen dengan beragam kisah menarik yang inspiratif bahkan ada salah satu dari cerpen itu ditulis oleh seorang novelis yang namanya sudah tak asing lagi di telinga para pecinta novel, terutama genre romance islami yakni Adly Al-Fadlly Usmunie. Pada intinya cerpen karya Adly Al-Fadlly Usmunie ini sangat menarik dan inspiratif bahkan pembaca dibawa masuk dalam sebuah alur cerita yang sangat intens, kalau dikata anak milenial zaman now,,, "Awas Hati-Hati Cerpen ini Mengandung Bawang"... dan yah aku sampai meneteskan air mata saat membacanya dan dari situ juga aku ingin mengabadikannya biar aku tetep ingat momen itu. 


Terimakasih untuk Ustadz Royhand Firdaus yang sudah memberikan buku kumpulan cerpen inspiratif ini pada saya dan buku ini sangat bermanfaat sekali.

Senin, 31 Agustus 2020

Love My Self

Aku adalah makhluk yang paling sempurna, dengan kesempurnaan ini, aku berterimakasih pada-Nya

Dia memberiku akal untuk berfikir, menimbang, dan memfilter semua pengetahuan dan informasi 

Dia juga memberiku bentuk fisik sempurna, sehingga aku bisa melangkah nan jauh disana

Langkah ini tak hanya berasal dari satu indra, melainkan dari semua indra yang ada pada jasmani


Mata, aku dapat melihat dunia dengan bantuanmu

Hidung, aku dapat mencium bau karena ketajamanmu

Lidah, aku dapat mencecap rasa dengan cecapmu

Kulit, aku dapat merasakan sentuhan dengan kepekaanmu


Aku ucapkan syukur dan terimakasih, dengan segala kesempurnaan-Mu 

Duhai sang Penciptaku

Atas semua kenikmatan, keberkahan, dan kesempurnaan

Aku janji akan menjaga anugrahmu untuk melakukan segala kebajikan


Aku akan belajar untuk lebih mencintai diriku

Belajar untuk tidak selalu melihat keterbatasan yang ada pada diri ini

Melainkan melihat dan menjalankan sesuatu yang positif dari keterbatasan itu

Bisa jadi dalam keterbatasan tersimpan mutiara

Bisa jadi dalam ketidaksempurnaan tersimpan permata

Karena pada dasarnya apa yang ada dalam diri setiap orang adalah kesempurnaan dari-Nya 


STIGMA

Kedua insan dipertemukan Tanpa ada janji yang beralasan Saling menyapa dan mengenal Perhatian pun dicurahkan Hingga hati jatuh dalam...